21/04/2013

namarappuccino

i just found a blog named namarappuccino. the content of the blog is about love, poem, and fiction (with the real feel).
dan ini adalah beberapa postingan favorit saya:

Untuk Hal yang sama

"Di sini, di kenanganku ini, kamu memiliki ruang paling luas yang bisa kamu tempati.

Tawanya, ceritanya, gerak-geriknya, sampai setiap kata-kata menarik yang kamu ucapkan yang selalu bisa membuat aku begitu saja merasa senang. Seperti, "Kamu sedang apa?" Atau "Kok belum tidur?" 

Hal-hal yang sepele untuk diucapkan, tapi ketika yang mengucapkannya orang yang beda, dalam hati kita akan juga terasa beda.


Kita pernah dekat. Pernah saling memeluk erat. Sampai aku merasa kamu tidak mau aku lepaskan atau seperti pelukan perpisahan sehingga untuk mengendurkannya pun enggan. Pelukanmu seperti itu yang tidak akan pernah aku lupakan. Aku menikmatinya.

Tidak hanya itu, aku juga menikmati setiap sapaan atau sekedar pertanyaan kecil, "Kamu sudah makan?" 

Mungkin pertanyaan seperti itu, tidak terlalu banyak berarti bagi beberapa orang, tapi bagiku, kalau kamu yang menanyakannya, itu bermakna sangat besar.

Kamu, aku mengingatmu sekarang. Sendirian. Di sepertiga terakhir malam."



Pernah Ada

"Kamu pernah ada. Terutama ketika aku sedang membutuhkan teman untuk berbicara, dan kamu tiba-tiba saja di sana. Mengajakku tertawa dengan kekonyolan-kekonyolanmu sampai aku lupa bahwa sebenarnya kita tidak pernah benar-benar bersama. Aku di sini, kamu di sana.

Kamu pernah ada. Dalam doa-doaku, agar suatu hari Tuhan tidak hanya menumbuhkan perasaan menjengkelkan berupa kenyamanan yang saat ini aku rasakan. Aku meminta lebih, layaknya manusia umumnya. Aku minta diberi kesempatan agar kelak kita diberi kesempatan untuk saling jatuh cinta, lalu bahagia lebih lama dari selamanya. Terkesan seperti roman, tapi aku bilang itu harapan. 


Kamu pernah ada. Dalam kata-kata yang aku rangkai dengan tersenyum-tersenyum sendiri, atau dengan merasakan sesak di dada. Tergantung apakah rangkaian kata itu sedang menggambarkan detail tentang kamu atau sedang menggambarkan harapanku yang tetap hanya selalu menjadi 'harapanku'.

Kamu, terima kasih sudah pernah ada. Terima kasih sudah memberi banyak tawa. Terima kasih sudah menaruh puluhan giga byte memori ke hard disk kepalaku. Aku tidak pernah harus berpura-pura menjadi orang lain ketika bersamamu.

Kalau ada yang bertanya apa hal terbaik yang pernah terjadi kepadaku, aku akan menjawab momen-momen percakapanku denganmu. 

Dan kalau ada yang bertanya apa aku bahagia melewati semuanya? Aku akan menjawab, "Ya. Aku bahagia..."

Tapi kalau semua kata pernah di semua paragraf di atas dihapus, aku pasti lebih berbahagia."



Dua Orang yang 'Tidak Bisa' Meninggalkan

"Mungkin lebih baik memang seperti ini. Kita masih saling melindungi meski tak saling memiliki. 

Saling memperhatikan meski sudah berjauhan.

Saling menguatkan dengan tanpa bergenggaman tangan.  

Saling mendoakan meski tak saling berhadapan.*


Saling menertawakan kebodohan-kebodohan yang pernah kita buat, yang selamanya akan kita rindukan.

Saling menyemangati meski harus tahu batas diri.* 


Saling mengisi meski sudah tak boleh lagi melibatkan hati. 

(Semoga kamu tidak tahu, pada saat menuliskan "Tak boleh lagi melibatkan hati" tadi, rasanya pahit setengah mati.)



Karena kalaupun tidak bisa bersama, setidaknya kita berdua jangan saling memberi luka."



terimakasih namarappuccino sudah mewakilkan perasaan saya.. :'D

No comments:

Post a Comment